Kepemimpinan Instruksional Kepala Sekolah Dalam Implementasi Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) Di SDN 026 Penajam Kabupaten Penajam Paser Utara
DOI:
https://doi.org/10.58191/jomel.v6i2.554Kata Kunci:
peran kepala sekolah, pembelajaran mendalam (deep learning), sekolah dasar, kepemimpinan pembelajaranAbstrak
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran kepala sekolah dalam mengimplementasikan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya di SDN 026 Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Subjek penelitian meliputi kepala sekolah, guru, dan peserta didik. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman dengan uji keabsahan melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran kepala sekolah meliputi pemimpin pembelajaran (instructional leader), fasilitator, motivator, dan supervisor akademik. Kepala sekolah mendorong guru melalui komunitas belajar (Kombel), In-House Training (IHT), dan pendampingan pemanfaatan Ruang GTK. Faktor pendukung meliputi komitmen kepala sekolah, ketersediaan sarana prasarana, budaya kolaboratif, dan dukungan kebijakan. Faktor penghambat meliputi keterbatasan kemampuan teknologi guru, variasi pemahaman konsep deep learning, dan keterbatasan waktu pembelajaran. Kesimpulan menunjukkan kepemimpinan instruksional kepala sekolah sangat strategis dalam keberhasilan implementasi deep learning. Diperlukan penguatan kapasitas kepala sekolah dan guru secara berkelanjutan agar implementasi optimal dan berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran.Referensi
Barney, J. (1991). Firm resources and sustained competitive advantage. Journal of Man-agement, 17(1), 99–120.
Bass, B. M., & Avolio, B. J. (1994). Improving organizational effectiveness through transformational leadership. Thousand Oaks, CA: Sage Publications.
Boyatzis, R. E. (1982). The competent manager: A model for effective performance. New York: John Wiley & Sons.
Cogan, M. L. (1973). Clinical supervision. Boston: Houghton Mifflin.
Fullan, M. (2007). The new meaning of educational change (4th ed.). Teachers College Press.
Glickman, C. D., Gordon, S. P., & Ross-Gordon, J. M. (2018). SuperVision and instructional leadership: A developmental approach (10th ed.). Boston: Pearson.
Goldhammer, R. (1969). Clinical supervision: Special methods for the supervision of teachers. New York: Holt, Rinehart and Winston.
Hallinger, P., & Murphy, J. (1985). Assessing the instructional management behavior of principals. The Elementary School Journal, 86(2), 217–247. https://doi.org/10.1086/461445
Hambrick, D. C., & Mason, P. A. (1984). Upper echelons: The organization as a reflec-tion of its top managers. Academy of Management Review, 9(2), 193–206.
Hersey, P., & Blanchard, K. H. (1969). Management of organizational behavior: Utiliz-ing human resources. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall.
Hersey, P., & Blanchard, K. H. (1977). Management of organizational behavior: Utiliz-ing human resources (3rd ed.). Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall.
Hersey, P., Blanchard, K. H., & Johnson, D. E. (2008). Management of organizational behavior: Leading human resources (9th ed.). Upper Saddle River, NJ: Pearson Prentice Hall.
Hidayat, A., & Nurhasanah, S. (2021). Peran kepala sekolah dalam mendukung implementasi pembelajaran mendalam pada sekolah dasar. Jurnal Manajemen Pendidikan, 13(2), 145–156.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2016). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Kemendikbud.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kemdikbudristek.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. (2024). Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah. Jakarta: Kemdikbudristek.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. (2025). Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 13 Tahun 2025 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah. Jakarta: Kemendikdasmen.
Kotter, J. P., & Schlesinger, L. A. (1979). Choosing strategies for change. Harvard Business Review, 57(2), 106–114.
Kotter, J. P. (1996). Leading Change. Boston, MA: Harvard Business School Press.
Kurniawan, D., & Astuti, R. (2023). Peran kepala sekolah dalam mendukung pembelajaran mendalam melalui supervisi akademik. Jurnal Kepemimpinan Pendidikan, 5(1), 77–89.
Lestari, P., & Putra, R. (2024). Kepemimpinan kepala sekolah dalam mewujudkan pembelajaran mendalam yang berpihak pada Peserta didik. Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia, 9(1), 21–33.
Lewin, K. (1951). Field theory in social science. New York: Harper & Row.
Likert, R. (1967). The human organization: Its management and value. New York: McGraw-Hill.
Lincoln, Y. S., & Guba, E. G. (1985). Naturalistic inquiry. Sage Publications.
Lisnawati, Rukaiyah, & M. (2024). 45-53+Lisnawati. Jurnal Manajamen Dan Organisasi Review (Manor), 6(1). https://doi.org/10.47354/mjo.v5il
McClelland, D. C. (1973). Testing for competence rather than for "intelligence." American Psychologist, 28(1), 1–14.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). SAGE Publications.
Mutawadia, A., Rahmawati, D., & Hidayat, S. (2023). Pengaruh pembelajaran deep learning terhadap kemampuan pemecahan masalah dan kolaborasi Peserta didik sekolah dasar. Jurnal Inovasi Pendidikan, 14(2), 101–112.
Mutmainnah, N., Adrias, A., & Zulkarnaini, A. P. (2025). Implementasi pendekatan deep learning terhadap pembelajaran matematika di sekolah dasar. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(1), 858–871.
Pemerintah Republik Indonesia. (2003). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta.
Prasetyo, B., & Lestari, N. (2022). Strategi kepala sekolah dalam mendorong pembelajaran mendalam di sekolah dasar. Jurnal Inovasi Pendidikan, 14(3), 201–212.
Rahmawati, D. (2022). Kepemimpinan kepala sekolah dalam implementasi pembelajaran mendalam berbasis Kurikulum Merdeka. Jurnal Administrasi Pendidikan, 29(2), 134–146.
Sandy, R., Putra, D. A., & Lestari, M. (2023). Artificial intelligence dan peluang penerapannya dalam dunia pendidikan. Jurnal Pendidikan dan Teknologi, 8(2), 67–79.
Senge, P. M. (1990). The fifth discipline: The art and practice of the learning organization. New York: Doubleday.
Sari, M., & Handayani, T. (2023). Peran kepala sekolah dalam penguatan pembelajaran mendalam pada satuan pendidikan dasar. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 30(1), 55–67.
Sergiovanni, T. J., & Starratt, R. J. (2002). Supervision: A redefinition (7th ed.). Boston: McGraw-Hill.
UNESCO. (2023). Reimagining Our Futures Together: A New Social Contract for Edu-cation. Paris: UNESCO Publishing..
Wulandari, E., Susanto, H., & Pramudya, A. (2024). Kepemimpinan kepala sekolah dalam implementasi pembelajaran mendalam (deep learning) di sekolah dasar. Jurnal Manajemen dan Supervisi Pendidikan, 8(2), 98–110.
Yukl, G. A. (2013). Leadership in organizations (8th ed.). Boston: Pearson.









